Islam Come's With Peace

We Are Moeslem Comunity

Aristotle Quote of the Day

Kerjaan Mughal

KERAJAAN MUGHAL DI INDIA
oleh : lato hardi

A. PENDAHUUAN

Setelah runtuhnya khalifah Abbasiyah di Baghdad yang diakibatkan oleh serangan tentara Mongol, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara drastis. Wilayah kekuasaanya terpecah-pecah menjadi beberapa kerajaan kecil yang antara satu dengan yang lainnya saling berperang. Banyak hasil peninggalan peradaban dan budaya hancur akibat dari serangan bangsa Mongol pada abad ke 13 M[1] bukan hanya itu, kehancuran juga tidak berhenti sampai disitu. Timur Leng, juga melakukan serangan-serangan ke asia kecil,[2] menghancurkan kebudayaan, peradaban Islam dan pusat-pusat kekuasaan Islam yang lain.

Keadaan politik umat Islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah muncul danj berkembangnya tiga kerajaan besar: Usmani di Turki, Mughal di India, dan Safawi di Persia. Kerajaan Usmani, disamping yang pertama berdiri, juga yang terbesar dan paling lama bertahan dibandig dua kerajaan lainnya. Dalam makalah ini akan dibahas Kerajaan Mughal di India. Kapan awal berdirinya, perkembangan dan kemajuan apa saja yang telah dicapai dan kemunduran kerajaan ini.

B. PEMBAHASAN

a. Kerajaan Mughal di India

Awal berdirinya kerajaan Mughal seperempat abad sesudah berdirinya kerajaan Safawi. Jadi, di antara tiga kerajaan besar Islam tersebut, kerajaan inilah yang termuda. Kerajaan Mughal bukanlah kerajaan Islam pertama di anak benua India. Awal kekuasaan Islam diwilayah India terjadi pada masa Khalifah al-Walid, dari dinasti Bani Umayyah. Penakluk wilayah ini dilakukan oleh tentara Bani Umayyah di bawah pimpinan Muhammad ibn Qasim.[3] Pada fase desintegrasi, dinasti Ghaznawi mengembangkan kekuasaannya di India di bawah pimpinan Sultan Mahmud dan pada tahun 1020 M, ia berhasil menaklukan hampir semua kerajaan Hindu di wilayah ini, sekaligus mengislami sebagian masyarakatnya. Setelah dinasti Ghaznawi hancur, muncul dinasti-dinasti kecil seperti Mamluk (1206-1290 M), Khaji (1296-1316 M), Tuglug (1320-1412 M) dan dinasti-dinasti lain.

Kerajaan Munghal di India dengan Delhi sebagai ibu kota, didirikan oleh Zahiruddin Babur (1482-1530 M), salah satu cucu dari Timur Leng. Ayahnya bernama Umar Mirza, penguasa Ferghana. Babur mewarisi daerah Ferghana dari orang tuanya ketika ia masih berusia 11 tahun. Ia terambisi dan bertekad akan menaklukan samarkand yang menjadi kota penting di Asia Tengah pada masa itu. Pada mulanya ia mengalami kekalahan tetapi karena mendapat bantuan dari Raja Safawi, Ismail I, akhirnya ia berhasil menaklukan Samarkand tahun 1494 M. padsa tahun 1504 M ia menduduki Kabul, ibu kota Afganistan. Setelah Kabul dapat ditaklukan, Babul meneruskan ekspansinya ke India. Kala itu Ibrahim Lodi, penguasa India, dilanda krisis sehingga stabilitas pemerintahan menjadi kacau. Alam Khan, paman dari Ibrahim Lodi, bersama-sama Daulat Khan, Gubernur Lahore, mengirim utusan ke Kabul, meminta bantuan Babur untuk menjatuhkan pemerintahan Ibrahim di Delhi. Permohonan itu langsung diterimanya. Pada tahun 1525 M, Babul berhasil menguasai Punjab dengan ibu kotanya Lahore. Setelah itu, ia memimpin tentaranya menuju Delhi. Pada tanggal 24 April 1526 terjadi pertempuran yang dahsyat di Panipat. Ibrahim beserta ribuan tentaranya terbunuh dalam pertempuran itu. Babur memasuki kota Delhi sebagai pemenang dan menegakkan pemerintahan di sana. Dengan demikian berdirilah kerajaan Mughal di India. [4]

Setelah kerajaan Mughal berdiri, raja-raja Hindu di seluruh India menyusun angkatan perang yang besar untuk menyerang Babur. Namun, pasukan Hindu ini dapat dikalahkan Babur, sementara itu, di Afganistan masih ada golongan yang setia kepada keluarga Lodi. Mereka mengangkat adik kandung Ibrahim Lodi, Mahmud, menjadi sultan.tetapi sultan Mahmud Lodi dengan mudah dikalahkan Babur dalam pertempuran dekat Gogra tahun 1529 M. pada tahun 1530 M Babur meninggal dunia dalam usia 48 tahun setelah memerintah selama 30 tahun, dengan meninggalnya kejayaan-kejayaan yang cemerlang. Pemerintahan selanjutnya dipegang oleh anaknya Humayun.

Hamayu, putera sulung Babur, dalam melaksanakan pemerintahan banyak menghadapi tantangan. Sepanjang masa kekuasaannya selama sembilan tahun (1530-1539 M) Negara tidak pernah aman. Ia senantiasa melawan musuh. Diantara tantangan yang muncul adalah pemberontakan Bahadur Syah, penguasa Gujarat yang misahkan diri dari Delhi. Pemberontakan ini dapat dipadamkan. Bahadur Syah melatikan diri dan Gujarat dapat dikuasai. Pada tahun 1540 M terjadi pertempuran dengan Sher Khan di Kanauj. Dalam pertempuran ini Humayun mengalami kekalahan. Ia terpaksa melarikan diri ke Kandahar dan selanjutnya ke Persia. Di Persia ia menyusun kemebli tentaranya. Kemudian dari sini ia menyerang musuh-musuhnya dengan bantuan raja Persia, Tahmasp. Humayun da[pat mengalahkan Sher Khan shah setelah hamper 15 tahun berkelana meninggalkan Delhi. Ia kembali ke India dan menduduki tahta kerajaan Mughal pada tahun 1555 M. setahun setelah itu (1556 M) ia meningal dunia karena jatuh dari tangga perpustakaannya, Din Panah.

Humayun diganti oleh anaknya, Akbar, yang berusia 14 Tahun. Karena ia masih muda urusan kerajaan diserahkan kepada Bairam Khan, seorang Syi’i. pada masa akbar inilah kerajaan Mughal mencapai masa keemasannya.Diawal masa pemerintahannya, Akbar menghadapi pemberontakan yang dipimpin oleh Himun yang menguasai Gwalior dan Arga. Pasukan pemberontakan itu berusaha memasuki kota Delhi. Bairam Khan menyambut kedatangan pasuikan tersebut sehingga terjadilah peperangan yang dahsyat, yang disebut Panipat II pada tahun 1556 M. Himun dapat dikalahkan. Ia ditangkap, kemudian dieksekusi. Dengan demikian, Arga dan Gwalior dapat dikuasai. Setelah Akbar dewasa ia berusaha menyingkirkan Bairam Khan yang sudah mempunyai pengaruh sangat kuat dan terlampau memaksakan kepentingan aliran Syi’ar. Bairam Khan memberontak, tetapi dapat dikalahkan oleh Akbar di Jullandur tahun 1561 M setelah persoalan-persoalan dalam negri bias diatasi, Akbar mulai menyusun Program Ekspansi. Ia berhasil menguasai Cundar, Ghond, Chitor, Ranthabar, Kalinjar, Gujarat, Surat, Bihar, Bengah, Kashmir, Orissa, Deccan, Gawilgarh, Narhala, Ahmadnagar, dan Asirgah. Eilayah yang sangat luas itu diperintah dalam suatu pemeritahan Militeristik. Dalam pemerintahan militeristik tersebut Sultan adalah penguasa Diktator. Pemerintahan daerah dipegang oleh seorang sipah salar (kepala komandan), sedangkan sub-distrik dipegang oleh faujdar (Komandan). Jabatan-jabatan sipil juga diberi jenjang kepangkatan yang bercorak kemiliteran. Pejabat-pejabat itu memang diharuskan mengikuti latihan kemiliteran. Akbar juga menerapkan apa yang dinamakan dengan politik sulakhul (toleransi universal). Dengan politik ini, semua rakyat India dipandang sama. Mereka tidak dibedakan karena perbedaan etnis dan agama. Kemajuan yang dicapai akbar masih dapat dipertahankan oleh tiga sultan berikutnya, yaitu jehangir (1605-1628M), Syah Jehan (1628-1658 M) dan Auranzeb (1658-1707 M). tiga sultan penerus Akbar ini memang terhitung Raja-raja yang besar dan kuat. Setelah itu, kemajuan kerajaan Mughal tidak dapat dipertahankan oleh raja-raja berikutnya. Kemantapan stabilitas politik karena system pemerintahan yang ditetapkan Akbar membawa kemajuan dalam Bidang-bidang yang lain.

b. Ekonomi, Seni dan Budaya

Dalam bidang ekonomi, kerajaan Mughal dapat mengembangkan program pertanian, pertambangan dan perdagangan. Akan tetapi, sumber keuangan Negara lebih banyak bertumpu pada sektor pertanian. Di sektor pertanian ini, komunitas pemerintah dan petani diatur dengan baik.pengaturan itu didasarkan atas lahan pertanian. Deh merupakan unit lahan pertanian terkecil. Beberapa deh tergabung dalam beberapa pergana (desa). Komunitas pertanian dipimpin oleh seorang Mukaddam. Melalui para mukaddam itulah pemerintah berhubungan dengan petani. Kerajaan berhak atas sepertiga dari hasil pertanian dinegeri itu hasil pertanian kerajaan Mughal yang terpenting ketika itu adalah biji-bijian, padi, kacang, tebu, sayur-sayuran, rempah-rempah, tembakau, kapas, nila dan bahan-bahan celupan.[5]

Disamping untuk kebutuhan dalam negeri, hasil pertanian itu diekspor ke eropa, Afrika, Arabia dan Asia Tenggara bersamaan dengan hasil kerajinan, seperti pakaian tenun dan kain tipis bahan gordiyn yang banyak diproduksi di Gujarat dan Bengal. Untuk meningkatkan produksi, Jehangir mengizinkan Inggris (1611 M) dan Belanda (1617 M) mendirikan pabrik pengolahan hasil pertanian di Surat.[6]

Disini terlihat jelas sekali bahwa sumber keuangan kerajaan mughal dihasilkan dari sektor pertanian yang banyak menghasilkan, begitu juga untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri mereka mengirimkan hasil pertanian mereka keluar negeri berupa kerajinan seperti tenun, kain-kain dan lain sebagainya.

Seiring dengan majunya ekonomi, seni dan budaya juga berkembang disamping kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh bidang ekonomi dan seni. Karya seni yang menonjol adalah karya sastra Gubahan penyair istana, baik yang berbahasa Persia maupun yang berbahasa India. Penyair India yang terkenal adalah Malik Muhammad Jayazi, seorang sastrawan Sufi yang menghasilkan karya besar berjudul Padmavadsebuah karya alegoris yang mengandung pesan kebajikan jiwa manusia. Pada masa Aurangze, muncul seorang sejarawan yang bernama Abu Fadl dengan karyanya Akbar Nama dan Aini Akbari, yang memaparkan sejarah kerajaan Mughal berdasarkan figure pimpinannnya. Karya seni yang masih dapat dinikmati sekarang dan merupakan karya seni terbesar yang dicapai kerajaan Mughal adalah karya-karya arsitektur yang indah dan mengagumkan. Pada masa akbar dibangun istana Fatpur Sikri di Sikri, vila dan masji-masjid yang indah. Pada masa syeh jehan dibangun mesjid berlapis mutiara dan Taj Mahal di Arga, mesjid raya Delhi dan istana indah di Lahore.[7]


SILSILAH RAJA-RAJA KERAJAAN SAFAWI[8]

Safi al-Din

(1252-1334 M)

Sadar al-Din Musa

(1334-1399 M)




Khawaja Ali

(1399-1427 M)

Ibrahim

(1427-1447 M)




Juneid

(1447-1460 M)

Haidar

(1460-1494 M)




Ali

(1494-1501 M)

1. Ismail

(1501-1524 M)

3. Tahmasp I

(1524-1576 M)




3. Ismail II

(1576-1577 M)

4. Muhammad Khudabanda

(1577-1787 M)




5. Abbas I

(1588-1628 M)

6. SAfi Mirza

(1628-1642 M)

7. Abbas II

(1642-1667 M)




8. Sulaiman

(1667-1694 M)

9. Husein

(1694-1722 M)




10. Tahmasp II

(1722-1732 M)

11. Abbas III

(1732-1736 M)

c. Kemunduran Kerajaan Mughal

Akhirnya, setelah kurang lebih satu setengah abad dinasti Mughal di India berkuasa para pelanjutnya tidak sanggung untuk tetap mempertahankan kekuasaannya yang telah dibina oleh sultan – sultan sebelumnya

Pada abad ke-18 M kerajaan ini memasuki masa-masa kemunduran. Kekuasaan politik mulai merosot, suksesi kepemimpinan di tingkat pusat menjadi ajang perebutan, gerakan separatis Hindu di India tengah, Sikh di belah utara dan Islam di bagian timur semakin lama semakin mengancam. Sementara itu, para pedagang Inggeris yang untuk pertama kali diizinkan oleh jehangir menanamkan modal di India, dengan didukung oleh kekuatan bersenjata semakin kuat menguasai wilayah pantai. Pada masa Aurangzeb, pemberontakan terhadap pemerintahan pusat memang sudah muncul, tetapi dapat diatasi. Pemberontakan itu bermula dari tindakan-tindakan Aurangzeb yang dengan keras menerapkan pemikiran puritanismenya. Setalah ia wafat, penerusnya rata-rata lemah dan tidak mampu menghadapi problema yang ditinggalkan. [9]

Sepeninggal Aurangzeb (1707 M), kerajaan berada dalam kondisi buruk dan tidak akan benar-benar pulih. Penggantinya meninggalkan kebijakan-kebijakan kemunalis, tetapi kerusakan sudah terjadi. Meskipun umat Islam tidak terpengaruh, tetapi tidak ada bukti otentik kemajuan Syariah Islam selama masa Aurengzeb, yang menerapkan keadilan untuk semua termasuk para dzimmi. Kerajaan itu muali terpecah dan pejabat-pejabat local Muslim cenderung mengontrol daerah meraka sebagai unit yang otonom.[10] Kemudian tahta kerajaan dipegang oleh Muazzab, putra tertua Aurangzeb yang sebelumnya menjadi penguasa di Kabul. Putra Aurangzeb ini kemudian bergelar Bahadur Syah (1707-1712 M). Ia menganut aliran Syi’ah. Pada masa pemerintahannya yang berjalan selama lima tahun, ia di hadapkan pada perlawanan Sikh sebagai akibat dari tindakan ayahnya. Ia juga dihadapkan pada perlawanan penduduk Lahore karena sikapnya yang etrlampau memaksakan ajaran Syi’ah kepada mereka.

Setelah Bahadur Syah meninggal, dalam jangka waktu yang cukup lama, terjadi perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana. Bahdur Syah diganti oleh anaknya. Akan tetapi pemerintahannya ditentang oleh Zulfiqar Khan, putera Azab Khan, wajir Aurangeb. Azimus Syah meninggal tahun 1712 M, dan diganti oleh Puteranya, Jihandar Syah, yang mendapat tantangan dari Farukh Siyar, Adiknya sendiri. Jihandar Syah dapat disingkirkan oleh Farukh Syiar tahun 1713 M. Farukh Siyar berkuasa sampai tahun 1719 M dengan dukungan kelompok Sayyid, tapi tewas di tangan pendukunggnya sendiri (1719 M). Sebagai gantinya, diangkat Muhammad Syah (117119-1748 M). Namun ia dan pendukungnya terusir oleh suku Asyfar di bawah pimpinan Syah yang sebelunya telah berhasil melenyapkan kekuasaan Safawi di Persia.[11] Keinginan Nadir Syah untuk tundukan kekuasaan Kerajaan Mughal terutama karena menurutnya, kerajaan ini banyak sekali memberi bantuan kepada pemberontakan Afghan di daerah Persia. Oleh karena itu pada tahun 1739 M, dua tahun telah menguasai Persia, ia menyerang kerajaan Mughal. Muhammad Syah tidak dapat bertahan dan mengaku tunduk kepada Nadir Syah. Muhammad Syah kembali berkuasa di Delhi setelah ia bersedia memberi hadiah yang sangat banyak kepada Nadir Syah. Kerajaan Mughal baru dapat melakukan restorasi kembali, terutama setelah jabatan wajir dipegang Chin Qilich Khan yang bergelar Nizam al-Mulk (1722-1732 M) karena mendapat dukungan dari Marathas. Akan tetapi, tahun 1732 M Nizam al-Nuk meninggal di Delhi menuju Hiderabad, dan nenetap disana.[12]

Konflik-konflik yang berkepanjangan mengakibatkan pengawasan terhadap daearah terlemah. Pemerintah daerah satu-persatu melepasakan loyalitas dari pemerintah pusat, bahkan cenderung memperkuat posisi pemerintahannya masing-masing. Hiderabad dikuasai Nizam al-Mulk, Marathas dikuasai Shivaji, Rajput Singh dari Amre, Punjab dikuasai oleh kelompok Sikh. Oudh dukuasai oleh Sadat Khan., Bengal dikuasai Syuja’ al-Din, menantu Mursyid Qulli, penguasa Bengal yang diangkat Aurangzeb. Sementara wilayah-wilayah pantai banyak yang dikuasai para pedagang asing, terutama EIC dari Inggeris.

Desintegrasi wilayah kekuasaan Mughal ini semakin diperburuk oleh sikap daerah, yang disamping melepaskan loyalitas terhadap pemerintah pusat, juga mereka senantiasa menjadi ancaman serius sebagai eksistensi dinasti Mughal itu sendiri.

Setelah Muhammad Syah meningal, tahta kerajaan Negara dipergang oleh Ahmad Syah (1748-1754 M), kemudian diteruskan oleh Alam (1761-1806 M). pada tahun 1761 M, kerajaan Mughal diserang oleh Ahmad Khan Duranni dari Afgan. Kerajaan Mughal tidakl dapat bertahan dan sejak itu Mughal berada dibawah kekuasaan Afghan, meskipun Syah Alam tetap diizinkan memakai gelar Sultan.

Ketika kerajaan Mughal memasuki keadaan yang lemah seperti ini, pada tahun itu juga, perusahaan Inggris (EIC) yang sudah semakin kuat mengangkat senjata melawan pemerintah Kerajaan Mughal. Peperangan berlangsung berlarut-larut. Akhirnya, Syah Alam membuat perjanjian damai dengan menyerahkan Oudh, Bengal, dan Orisa kepada Inggris. Sementara itu, Najib Al-Daula, wajir Mughal dikalahkan oleh aliansi Sikh-Hindu, sehingga Delhi dikuasai Sindhia dari Marathan. Akan tetapi, Sindhia dapat dihalau kembalioleh Syah Alam Dengan Bantuan Inggris.[13]

Syah Alam meninggal tahun 1806 M. tahta kerajaan selanjutnya dipegang oleh Akbar II (1806-1837 M). pada masa pemerintahan Akbar memberi konsesi kepada EIC untuk mengembangkan usahanya di anak benua India sebagai mana yang diinginkan Inggris, tapi pihak perusahaan harus menjamin kehidupan raja dan keluarga istana. Dengan demikian, kekuasaan kekuasaan sudah berada ditangan Inggris, meskipun kedudukan dan gelar sultan dipertahankan. Bahdur Syah (1837-1858 M), penerus Akbar, tidak menerima isi perjanjian antara EIC dengan ayahnya itu, sehingga terjadi konflik antara dua kekuatan tersebut. Pada waktu yang sama, pihak EIC mengalami kerugian, karena penyelenggaraan administrasi perusahaan yang kurang efisien, padahal mereka harus tetap menjamin kehidupan istana. Untuk menutupi keruguan dan untuk memenuhi kebutuhan istana, EIC mengadakan pungutan yang tinggi terhadap rakyat secara ketat dan cenderung kasar. Karena rakyat merasa ditekan, maka mereka, baik yang beragama Hindu maupun Islam bangkit mengadakan pemberontakan. Mereka memita kepada Bahadur Syah untuk menjadi lambing perlawanan itu dalam rangka mengembalikan kekuasaan kerajaan Mughal di India. Dengan demikian, terjadi perlawanan rakyat India terhadap kekuatan Inggris pda bulan Mei 1857 M.[14]

Perlawanan mereka dapat dipatahkan dengan mudah, karena inggris mendapatkan dukungan dari beberapa penguasa local Hindu dan Muslim. Inggris kemudian menjatuhkan hukuman yang kejam terhadap para pemberontak. Mereka di usir dari kota Delhi, 4 rumah-rumah ibadah banyak dihancurkan, dan Bahadur Syah, raja Mughal terakhir, diusir dari istana (1858 M).

Dengan demikian berakhir sejarah kekuasaan dinasti Mughal di daratan India, dan tinggallah di sana umat Islam yang harus berjuang mempertahankan eksistensi mereka. Apakah islam akan menjadi kasta baru Hindu? Akankah Muslim kehilangan identitas budaya dan religiusnya dan ditenggelamkan oleh tradisi asing yang sangat berbeda dengan tradisi Timur Tengah tempat lahirnya Islam? Apakah mereka telah kehilangan hubungan dengan akarnya?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kekuatan dinasti Mughal Itu mundur satu setengah abad terakhir, dan membawa kepada kehancuran pada tahun 1858 M; yaitu:[15]

  1. Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris diwilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan miritim Mughal. Begitu juga kekuatan pasukan darat. Bahkan mereka kurang terampil dalam mengoprasikan persenjataan kerajaan Mughal sendiri.
  2. Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elite politik, yang mengakibatkan dalam penggunaan uang Negara.
  3. Pendekatan Aurangzeb yang terlampau “kasar” dalam melaksanakan dalam melaksanakan ide-ide puritan dan kecendrungan asketisnya, sehingga konflik antar agama sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sesudahnya.
  4. Semua pewaris tahta kerajaan pada para terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.

Kesimpulan

Awal berdirinya kerajaan Mughal seperempat abad sesudah berdirinya kerajaan Safawi. Jadi, di antara tiga kerajaan besar Islam tersebut, kerajaan inilah yang termuda. Kerajaan Mughal bukanlah kerajaan Islam pertama di anak benua India. Tetapi pada akhirnya dapat hancur pada tahun 1858 M, karena kemorostan moral para elite politik, raja Aurangzeb terlalu kasar dalam menjalankan tugas-tugas yang akhirnya terjadi konflik agama yang sulit untuk diselesaikan.

DAFTAR PUSTAKA

Amstrong, Karen, Islam A Short History, terjemahan (Ikon Teralitera : 2002), cet. II

Badri Yatim, Sejarah Peradaban I slam, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2003), Cet.XIV

Hamka, Sejarah Umat Islam, Jilid III, (Jakarta : Bulan Bintang, 1981)

Nasution, Harun Islam ditinjau dari berbagai Aspeknya, jilid I, (Jakarta : UI Press, 1985, cetakan kelima)

Ibrahim, Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Yogyakarta : Kota Kembang)

Syalabi, Ahmad Sejarah dan Kebudayaan Islam : Imperium Turki Usmani, (Jakarta : Kalam Mulia, 1988)



[1] Hasan Ibrahim, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Yogyakarta : Kota Kembang), hlm. 324

[2] Ahmad Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam : Imperium Turki Usmani, (Jakarta : Kalam Mulia, 1988), hlm. 2

[3] Hamka, Sejarah Umat Islam, Jilid III, (Jakarta : Bulan Bintang, 1981) , Cet. IV, hal. 163

[4] Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai Aspeknya, jilid I, (Jakarta : UI Press, 1985), Cet V, hlm.82

[5] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2003), Cet.XIV.hal. 150

[6] Ibid

[7] Badri Yatim, hal. 151

[8] Ibid, hal. 146

[9] Ibid.hal. 159

[10] Karen Amstrong, Islam A Short History, terjemahan (Ikon Teralitera : 2002), cet. II, hal. 151

[11] Hamka, hal 161-162

[12] Badri Yatim, hal. 160

[13] Hamka, hal 163

[14] Badri Yatim, hal. 161

[15] Badri Yatim, hal. 163

0 komentar: